Sabtu, 30 April 2016

Biografi Dewi Sartika

Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dan meninggal pada tanggal 11 September 1947 pada umur 62 tahun. Beliau adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana. Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara.
Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena sejak anak-anak ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia sangat senang berperan sebagai guru.[1] Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada tanggal 16 Januari 1904 dia berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”.[2] Sekolah tersebut hanya dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung semua aktivitas sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan Kepatihan Bandung. Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama.
Sedikit sekali jumlah anak-anak perempuan yang ikut menikmati kesempatan mendapatkan pendidikan waktu itu. Hal ini di sebabkan oleh pandangan orang tua dari gadis-gadis, yang berkeberatan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah dengan berbagai alasan, antara lain:
1.      Pendidikan sekolah untuk anak perempuan tidak perlu, atau tidak melihat kegunaannya.
2.      Anak wanita lebih pantas dalam rumah tangga dan terutama di takdirkan untuk melanjutkan keturunan.
3.      Pelajaran-pelajaran yang di berikan tidak banyak berguna bagi wanita-wanita pribumi.
4.      Anak-anak perempuan tidak bekerja sehingga pengetahuan yang didapatkan di sekolah tidak berguna, mereka hanya memerlukan pendidikan mengenai penyelenggaraan rumah tangga.
5.      Orang takut bahwa wibawa orang tua akan berkurang, terutama dalam menentukan perkawinan.[3]
Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya.[4] Masyarakat akhirnya melihat arti dan kegunaan pendidikan itu. Oleh karena itu, banyak orang yang mengirimkan anak-anak gadisnya ke Sekolah Isteri.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sekolah Isteri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sekolah Isteri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sekolah Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan).
Dengan bantuan tenaga dan pikiran suaminya Raden Kanduruan Agah Suriawinata seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Sangat mendukung segala kegiatan yang di lakukan oleh istrinya tersebut. Akhirnya pada tahun 1929 Sekolah Keutamaan Istri dapat memiliki gedung sendiri.
Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada negaramu. Kata bijak tersebut sangat tepat menjadi panduan semua bangsa yang hendak menobatkan seseorang sebagai penerima gelar kehormatan ‘pahlawan’ di negaranya. Terlepas dari bentuk atau cara perjuangannya, seorang pahlawan pasti telah berbuat sesuatu yang heroik untuk bangsanya sesuai kondisi zamannya. Demikian halnya dengan Raden Dewi Sartika. Jika pahlawan lain melakukan perjuangan untuk bangsanya melalui perang frontal seperti angkat senjata, Dewi Sartika memilih perjuangan melalui pendidikan, yakni dengan mendirikan sekolah. Berbagai tantangan, khususnya di bidang pendanaan operasional sekolah yang didirikannya sering dihadapinya. Namun berkat kegigihan dan ketulusan hatinya untuk membangun masyarakat negerinya, sekolah yang didirikannya sebagai sarana pendidikan kaum wanita bisa berdiri terus, bahkan menjadi panutan di daerah lainnya.

Sumber:
Sudarmanto. 1996. “Jejak-Jejak Pahlawan; Dari Sultan Agung Hingga Syekh Yusuf”.
Jakarta: PT. Gramedia.
Rochiati Wiriaatmadja. 1983. “Dewi Sartika”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.



[1] Sudarmanto. 1996. “Jejak-Jejak Pahlawan; Dari Sultan Agung Hingga Syekh Yusuf”. Jakarta: PT. Gramedia. Hlm. 98.
[2] Sudarmanto. Ibid., 98.
[3] Rochiati Wiriaatmadja. 1983. “Dewi Sartika”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Hlm. 81.
[4] Sudarmanto. Ibid., 98.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar