Selasa, 03 Maret 2015

History Of The Arabs Bab 6 dan Bab 8

History Of The Arabs (Bab 6-Muhammad Rasulullah)
Sekitar 571 Masehi, seorang bayi keturunan Quraisy lahir di Makkah. Muhammad (yang terpuji) adalah nama yang ia sandang. Ayah bayi itu, Abdullah, meninggal ketika ia masih di kandungan, ibunya, Aminah, meninggal ketika ia berusia enam tahun. Karena itu ia dasuh oleh kakeknya, Abdul Mutthalib dan setelah kakeknya meninggal ia diserahkan kepada pamannya, Abu Thalib. Diriwayatkan, ketika Muhammad berusia dua belas tahun, ia menyertai Abu Thalib dalam sebuah kafilah dagang menuju Suriah, tempat ia berjumpa dengan seorang pendeta yang bernama Bahira.
Setelah menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah, seorang janda kaya yang berwawasan dan berusia 15 tahun lebih tua, perjalanan Muhammad mulai memasuki tahap sejarah yang jelas. Saat itu ia sering mengasingkan diri dan merenung di gua kecil (ghar) di bukit Hira yang terletak di luar kota Makkah. Ketika Muhammad sedang diliputi kegelisahan, keraguan, dan harapan akan kebenaran, di dalam gua itu ia mendengar sebuah suara yang memerintahnya : “Bacalah!, Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,” dan seterusnya.
Itulah wahyu pertama. Peristiwa itu menandai munculnya seorang Nabi penerima wahyu di tanah Arab. Malam terjadinya peristiwa itu dikenal dengan sebutan malam ‘Laylatul Qadr’ dan menurut riwayat terjadi sekitar akhir bulan Ramadhan (610). Setelah wahyu pertama turun, yang menandai awal kenabian, berlangsung masa kekosongan (fatrah). Ketika itu hati Muhammad diliputi kegelisahan yang sangat dan merasakan beban emosi yang menghimpit, ia pulang dengan perasaan waswas, dan meminta istrinya untuk menyelimutinya. Saat itulah turun wahyu kedua yang berbunyi: “Wahai kau yang berselimut! Bangkit dan berilah peringatan.”. itulah awal yang menandai kerasulan Muhammad.
Kini Nabi Muhammad harus menemui kaumnya dan menyampaikan risalah barunya namun mereka menertawakan dan memakinya. Pada tahap itulah ia berperan sebagai nadzir (Q.S. 67:26 ; 51:50-51), pemberi peringatan dan sekaligus nabi yang berusaha melaksanakan misinya dengan memberikan gambaran tentang surga, neraka, dan kiamat. Singkat, tegas, ekspresif, dan mengesankan merupakan karakteristik wahyunya yang paling awal, yaitu surat-surat Makiyah.
Sebagai seorang penganjur, Nabi Muhammad hanya memiliki sedikit pengikut, Khadijah, Abu Bakar, Ali termasuk segelintir orang yang pertama kali memenuhi anjurannya. Tapi, Abu Sufyan, yang mewakili kelompok aristokrat dan berasal dari keluarga Umayah, satu keluarga yang berpengaruh pada suku Quraisy, menjadi penentang utamanya. Gerakan dan seruan Muhammad ini dianggap bidah dan dapat merugikan kepentingan ekonomi orang Quraisy yang merupakan penjaga Ka’bah, bangunan suci tempat “berkumpulnya” sejumlah dewa dan pusat ibadah orang-orang Arab. Ketika pengikut-pengikut baru, kabanyakan dari kalangan budak dan kelas bawah mulai menambah barisan orang-orang beriman, masyarakat dan pemuka Quraisy menyadari bahwa olok-olok dan makian yang mereka lancarkan selama ini tidak berarti apa-apa. Karena itu mereka mulai menempuh jalan kekerasan. Tindakan itu memaksa sebelas keluarga Makkah bermigrasi ke Abisinia dan diikuti kemudian oleh sekitar 83 orang lainnya pada 615 M.
Tanpa gentar sedikit pun, Muhammad menjalani masa-masa kelam penyiksaan. Ia bersikukuh unutk melanjutkan risalahnya, dan secara persuasif berhasil mengubah para penyembah berhala menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa.Tidak lama kemudian Umar bin Khattab masuk Islam. Sekitar tiga tahun sebelum Hijrah, Khadijah meninggal dunia dan tidak lama kemudian disusul pamannya, Abu Thalib wafat. Dalam masa pra-hijrah ini terjadi peristiwa dramatis, yaitu isra dan mi’raj.
Sekitar 620, beberapa orang Yastrib, kebanyakan berasal dari suku Khazraj, menemui Muhammad pada festival Ukaz dan merasa terkesan oleh perkataannya. Dua tahun kemudian, utusan yang berjumlah sekitar 75 orang mengundangnya untuk tinggal di Yastrib (Madinah), dengan harapan dapat mendamaikan dua suku yang saling bermusuhan, Aus dan Khazraj. Setelah dakwahnya ditolak di Thaif dan di tempat kelahirannya, Nabi Muhammad mengizinkan 200 pengikutnya untuk meghindari kekejaman Quraisy dan pergi diam-diam ke Madinah, ia sendiri menyusul dan sampai di Madinah pada 24 September 622. Dengan memanfaatkan masa-masa ‘gencatan senjata pada bulan suci’ dan keinginannya untuk menyejahterakan para Muhajirin, umat Islam di Madinah hendak menyergap sebuah kafilah musim panas yang sedang menempuh perjalanan pulang dari Suriah ke Makkah. Tentu saja penyergapan itu akan memukul aktivitas utama kehidupan kota metropolis-perdaganan itu. Pimpinan kafilah tersebut, Abu Sufyan mengetahui rencana tersebut dan mengirim berita ke Makkah untuk meminta bantuan. Dengan itu meletuslah perang Badr yang terjadi pada 624 dan Islam di bawah kepemimpinan Muhammad berhasil memenangkan pertempuran. Dengan kemenangan yang menandai ‘restu Tuhan’ atas agama baru itu Islam telah berkembang bukan lagi sebuah agama melainkan Islam merupakan sebuah negara di Madinah.
Pada 627, sebuah persekutuan (al-ahzab), yang terdiri atas orang-orang Makkah dan tentara bayaran dari suku Badui dan Abisinia, kembali memerangi orang-orang Madinah. Salman yang keturunan Persia mengusulkan untuk menggali parit dan pasukan penyerang akhirnya mundur dan kembali ke Makkah. Setelah pengepungan berakhir, Muhammad menyerang orag-orang Yahudi Banu Quraidzhah karena bersekongkol atas penyerangan Ahzab, setahun sebelumnya Muhammad telah mengusir Banu Nadhir, dan pada 628 orang-orang Yahudi Khaibar menyerah dan bersedia membayar upeti.
Pada periode Madinah ini, arabisasi atau nasionalisasi Islam mulai dilakukan. Nabi Muhammad memutuskan ketersambungan Islam dengan agama yahudi dan Kristen : Jumat menggantikan shalat Sabat, adzan menggantikan suara terompet dan gong, Ramadhan ditetapkan sebagai bulan puasa, kiblat dipindahkan dari Yarussalem ke Makkah, ibadah haji ke Kabah dibakukan dan mencium Hajar Aswad ditetapkan sebagai ritual Islam.
Pada 628, Muhammad memimpin delegasi umat Islam dalam Perjanjian Hudaibiyah, yang berjarak 15, 3 km dari Makkah yang memutuskan bahwa orang-orang Makkah dan Madinah harus mendapat perlakuan yang sama. Perjanjian ini praktis mengakhiri peperangan antara Muslim dengan Quraisy. Diatara anggota suku tersebut-Khalid bin Walid dan Amr bin Ash- masuk ke dalam Islam. Dua tahun kemudian, pada akhir Januari 630 M (8 H), umat Islam berhasil menaklukan kota Makkah, ketika memasuki Ka’bah, tempat suci utama Makkah, Muhammad menghancurkan semua berhala yang berjumlah 360 buah sambil berseru, “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna”. Hampir tidak ada kemenangan militer dalam catatan sejarah kuno yang bisa menandingi peristiwa penaklukan kota Makkah.
Tahun ke-9 Hijriyh ini (630-631) disebut ‘tahun perutusan’, sepanjang tahun itu berbagai utusan berdatangan untuk menawarkan persekutuan dengan Nabi Muhammad. Banyak yang suku yang bergabng dengan didasari oleh pertimbngan untung-rugi, bukan keyakinan dan Islam hanya menghendaki ikrar keimanan dan pembayaran zakat. Bangsa-bangsa Arab yang sebelumnya idak pernah tunduk dalam kepemimpinan satu orang, tampaknya kini cenderung menyerah pada dominasi Islam dan ditarik ke garis perjuangan. Kekafiran berubah menjadi keimanan yang lebih mulia dan tatanan moral yang lebih tinggi.
Setahun berikutnya, ke-10 Hijriyah, Nabi Muhammad masuk dengan damai pada awal musim haji ke kota sucinya yang baru, Makkah. Perjalanan hajinya ke Makkah pada saat itu merupakan perjalanannya yang terakhir hingga dikenal sebagai ‘haji perpisahan’. Tiga bulan setelah haji, tanpa disangka-sangka ia jatuh sakit dan meninggal akibat sakit kepala pada 8 Juni 632.
Sekalipun berada pada puncak kesuksesan dan kejayaanya, Muhammad menjalani kehidupan yang sederhana seperti pada masa-masa sulit sebelumnya. Rumah yang beraskan tanah, menjahit pakaiannya sendiri dan dapat ditemui masyarakatnya kapan saja menandakan kesahajaannya tersebut. Perilaku kesehariaanya yang dilakukan dengan atau pun tanpa tujuan, telah membentuk satu tatanan norma yang ditaati oleh jutaan orang dewasa ini. Tidak seorang pun perilakunya yang ditiru sedemikan detil oleh sejumlah besar manusia selain Muhammad, seorang manusia sempurna. Dari Madinah, teokrasi Islam meyebar ke seluruh penjuru semenanjung dan kemudian merambah ke sebagian besar daratan Asia Barat dan Afrika Utara. Komunias Madinah saat itu menjadi model bagi komunitas-komunitas muslim belakangan.
Bab 8- PERIODE PENAKLUKAN, PENYEBARAN, DAN KOLONISASI
·         Penaklukan Bangsa-bangsa Arab
Setelah Muammad wafat yang menjadi persoalan adalah siapa penggantinya?. Muhammad tidak menunjuk pengganti setelahnya juga tidak mempunyai anak laki-laki setalah wafatnya  sehingga masalah kekhalifahan menjadi masalah pertama yang harus dihadapi Islam, bahkan sampai sekarang. Kelompok pertama yang mengakui sebagai pihak yang pantas untuk menggantikan posisi Nabi adalah kaum Muhajirin karena mereka yang memeluk Islam mula-mula, lalu Anshar juga mengklaim berhak untuk mengggantikan Muhammad karena merasa bahwa merekalah yang menjadi pelindung Muhammad ketika tercampakan di Mekkah, yang ketiga adalah orang-orang yang setuju jika Ali yang menjadi penerus misi Muhamad, lalu yang terakhir adalah kalanga Bani Umayah, golonga aristokrat Quraisy yang memilki kekuatan dan otoritas pada masa pra-Islam namun merekalah yang terakhir kali masuk Islam.
Pada akhirnya, terpilihlah Abu Bakar menjadi khalifah pertama, disusul oleh Umar, Utsman, dan Ali. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar yang singkat (632-634) sarat dengan peperangan melawan kaum riddah (murtad). Semua kawasan Islam di luar Hijaz yang menyatakan keislamannya pada masa Nabi tiba-tiba menyatakan keluar dan memisahkan diri pasca wafatnya Muhammad. Kemudian mereka menegaskan diri dengan menjadi pengikut para nabi palsu.
Pada masa itu, suku-suku Yaman, Yamamah, Oman, tidak mau membayar zakat ke Madinah. Wafatnya Nabi menjadi alasan utama penolakan itu dan didorong oleh kecemburuan terhadap hegemoni Hijaz. Namun, Abu Bakar hanya memberikan dua pilihan, yaitu tunduk tanpa syarat atau diperangi hingga binasa. Khalid bin Walid menjadi pahlawan dalam peperangan tersebut. Puncaknya ketika Khalid berhasil memberantas pasukan Musailamah dan Sajah dalam pertempuran Yamamah. Peperangan lainnya juga dilancarkan oleh para panglima Islam yang lain dengan tingkat kesuksesn berbeda-beda,di bahrain, Oman, Hadramaut, dan Yaman, markas besar Aswad.
Dua peristiwa penting pada akhir abad klasik adalah migrasi bangsa teutonik yag mengakibatkan kekacauan kajayaan Romawi, dan penaklukan Arab yang menghancurkan kerajaan Persia dan Byzantium. Pada saat itu akan dianggap orang gila jika pada tahun ketiga abad tujuh masehi orang meramalkan dalam satu dekade akan muncul satu kekutan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan Arab. Namun, itulah kenyataannya, setelah Nabi wafat, semenanjung arab seakan terkena sihir, menjadi tempat kelahiran para pahlawan yang jumlah dan kualitasnya sulit ditemukan di tempat lain. Peperangan yang dilancarkan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash di Irak, Persia, Suriah, dan Mesir termasuk di antara perang yang brilian dalam sejarah, menyamai prestasi Napoleon, Hanibal, dan Alexander.
Faktor-faktor berjayanya Islam dalam penaklukan itu adalah, kelelahannya dua imperium besar itu dalam perang berkepanjangan, pajak besar yang diterapkan kepada rakyat membuat loyalitas rakyatnya memudar, lalu ketika Islam datang, pajak yang dibayarkan jauh lebih kecil dari pajak yang diterapkan sebelumnya lalu kedekatannya mereka dalam segi ras dengan bangsa Arab juga menjadi faktor lain dalam keberhasilan penaklukan. Ditambah lagi strategi militer ala Ala Barat dan Afrika Utara dengan menggunakan unta dan kuda yang pada saat itu tidak dikuasai oleh pasukan romawi.
Beragam pandangan terlontar atas motif pergerakan Islam ini, para ulama meyakini bahwa faktor agamalah yang menjadi landasan pergerakan tersebut tanpa ada dorongan faktor ekonomi. Sedangkan, pihak Kristen menafsirkan gerakan ini dengan pandangan miring, bahwa bangsa Arab memegan Quran di tangan kanannya tetapi memegang pedang di tangan kirinya. Namun kiranya, ada juga yang bermotif ekonomi khususnya kepada para sekumpulan badui yang ingin keluar dari wilayah gersang kepada wilayah sebelah utara yang indah. Motif masuk surga juga memberikan andil, tapi dalam beragam kasus, dorongan untuk memperoleh kenyamanan yang dimiliki negri-negri berperadaban di daerah Bulan Sabit Subur juga sama kuatnya. Gerakan itu memperoleh momentum terbaiknya ketika satu demi satu para penakluk Arab itu memperoleh kemenangan. Sejak saat itu serangan sistematis pun dimulai dan pembentukan imperium Arab tak bisa dihindarkan. Dengan demikian, pembentukan kekuasaan yang luas itu lebih menjadi tuntutan keadaan bukan suatu yang telah disusun sebelumnya.
Islam yang menaklukan daerah utara bukanlah Islam agama tetapi Islam negara. Maka itu, Arabisme yang menang terlebih dahulu bukan Islamisme. Itu terbukti bahwa konversi penduduk asli kepada Islam baru terjadi pada abad kedua dan ketiga. Setelah Islam agama dan negara mapan, barulah Islam budaya muncul dan berkembang mengiringi penaklukan militer dengan memasukkan khazanah peninggalan Suriah-Aramaik, Persia, dan Yunani.
·         Penaklukan Suriah
Perang Mu’tah pada zaman Nabi menjadi letupan pertama antara Islam dan kerajaan Timur romawi yang dipimpin Heraklius dan baru berakhir ketika Byzantium jatuh ke tangan Islam pada tahun 1453.
Seusai perang Riddah, pada musim gugur 633. Tiga pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Ash, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah bergerak ke utara dan mulai menyerang Suriah bagian selatan dan tenggara. Jumlah pasukan gabungan itu sebanyak 3000 prajurit dan menjadi 7500 orang ketika pasukan Abu Ubaydah bergabung dan Abu Ubaydah memimpin pasukan gabungan tersebut. Sementara itu Khalid bin Walid bersama 500 para veteran Riddah ditugaskan oleh Abu Bakar untuk membantu pasukan yang berada di Suriah. Menempuh waktu 18 hari dengan kondisi perjalanan yang serba sulit secara dramatis dan mengejutkan Khalid tiba di Damaskus dan lengsung berhadapan dengan pasukan Byzantium, dalam satu penyerbuan Khalid berhasil mengalahkan pasukan Kristen Gassan. Beberapa pertempuran yang dimenangkan membuat jalan Khalid-yang menjadi komendan tertinggi pasukan gabungan-semakin mulus. Jalan menuju kota metropolis Damaskus di Suriah berhasil dibersihkan dengan mengalahkan musuh di Marja Shufar. Pada akhirnya Damaskus menyerah pada september 635, setelah dikepung selama 6 bulan.
Sementara itu Heraklius telah menghimpun 50.000 prajurit di bawah kepemimpinan saudaranya, Theodorus. Namun semua upaya Byzantium kandas dan saat itulah nasib Suriah berakhir dan untuk selamanya jatuh kepada kekuasaan imperium Timur.
Suriah kini terbagi dalam empat wilayah militer megikuti pembagian propinsi Romawi dan Byzantium sebelum menaklukan. Keempatnya adaah, Damaskus, Himsh, Yordania, yang meliputi Galilea, hingga gurun Suriah dan Palestina. Dari Suriah, para pasuka Islam membanjiri Mesir untuk menaklukan daerah bagian Afrika utara. Penetapan Suriah sebagai markas utama memungkinkan terjadinya serbuan ke Armenia, dan Mesopotamia utara, Georgia dan Azerbaijan. Dengan bantuan pasukan Suriah, spanyol yang berada di pinggiran benua Eropa jatuh ke dalam kekuasaan Islam yang semakin meluas kurang dari seratus tahun setalah Nabi wafat.
·         Penaklukan Irak dan Persia
Setelah Yarmuk ditaklukan dan Suriah berhasil dikuasai, Umar mengirim Saad bin Abi Waqash ke Irak, dengan 10.000 pasukan, Saad berhadapan denga Rustam-administrator kejaan Persia- di Qadisiyah. Pada bulan juni, cuaca sangat panas dan gelap karena badai gurun. Pasukan Saad berhasil membuat Rustam terbunuh dan pasukan Sasaniyah kocar-kacir. Sa’ad disambut baik oleh para petani Aramia seperi dixambut baiknya pasukan Islam oleh para petani Suriyah. Alasannya sama, orang Kristen pribumi telah diperlakukan buruk oleh orang-orang zoroaster. Bulan Juni 637, Sa’ad melenggang memasuki ibu kota dengan penuh kemenangan karena kota itu telah ditinggal oleh raja dan pasukannya.
Penaklukan pertama yang menentukan atas Persia membutuhkan waktu sekitar satu dekade, pasukan Islam menghadapi pertarungan yang lebih sengit ketimbang di Suriah. Dalam pertempuran tersebut, sekitar 35.000 sampai 40.000 dari perempuan, anak-anak, dan budak ikut terlibat. Baasa Arab menjadi bahasa resmi, bahasa pergaulan, dan sampai batas tertentu menjadi bahasa sehari-hari.
Sementara pasukan Arab yang dikomandoi Sa’ad bergerak ke timur, pasukan lain di bawah komando Amr bin Ash beroperasi ke Barat. Yang terakhir ini berhasil mengislamkan orang-orang di sekitar lembah sungai Nil dan orang-orang berber di Afrika Utara. Ekspansi orang Arab kini meluas mulai membentuk sebuah kerajaan besar yang luasnya menyamai kkekuasaan Alexander, dengan pengawasan oleh khalifah dari Madinah.
·         Penaklukan Mesir, Tripoli, dan Barkah
Penaklukan Mesir dilakukan dengan cara yang sistematis, tidak sporadis. Benteng pertama yang digempur pasukan Islam adalah al-Farama (Pelusium), kota kunci menuju Mesir timur. Pasukan Amr mendapat bala bantuan dari pasukan Zubayr bin Awwam sehingga pasukan Arab kini berjumlah 10.000 untuk melawan pasukan Byzantum yang sebanyak 20.000, belum termasuk pejaga benteng yang berjumlah 5000. Ketika sedang mengepung Babilonia, pada bulan Juli 640 di sana tentara Byzantium kalah total. Setalah menang dan memaksa Cycrus-salah satu bawahan Heraklius- untuk membayar upeti. Namun, Iskadariyah, sebagai kota terkuat setelah Konstantinopel masih belum terjamah.
Setelah Heraklius meninggal dunia, cucunya Constantine II menggantikan posisinya.cycrus kembali ke Islandariyah dan mengadakan perjanjian damai dengan Amr bin Ash.  Constantine mengesahkan perjanjian Iskandariyah yang berarti penyerahan satu provinsi terkaya ke tangan bangsa Arab.
Tidak lama sebelum wafat Umar mengangkat Abdullah bin Abi Sarh sebagai pengganti Amr bin Ash. Tidak puas dengan kebijakan baru, pada akir 645, orang-orang Iskandariyah meminta bantuan kepada raja Contantine, yang kemudian mengirimkan 300 armada laut di bawah komando Manuel, asal Armenia untuk merebut kota itu. Saat iti 1000 pasukan Arab dibantai dan Byzantium kembali merebut Iskandariyah. Lalu Amr bin Ash segera ditempatkan untuk berhadapan dengan pasukan musuh di Nikiu, yang menjadi kekalahan terbesar Byzanitium. Pada awal 646, Iskandariyah utnuk kedua kalinya berhasil dikuasai. Mesir kembali berada dalam kekuasaan Islam.

Jatuhnya Mesir membuat berbagai proinsi Byzantium rentan akan serangan musuh. Amr bergerak memimpin pasukan berkudanya ke Barat menuju Pentapolis dan menguasai Barkah tanpa perlawanan berarti. Penerusnya, Abdullah, melanjutkan ekspedisi dan menaklukan Tripoli dan menaklukan sebagian Afrika beserta ibu kotanya, Kartago. Pada 652, Abdullah melangsungkan berbagai perjanjian dengan orang-orang Nubia, yang terdiri dari orang Libya dan Negro, kerajaan Kristen ini tidak pernah mau tunduk kepada Islam dan menjadi penghalang perluasan Islam menuju wilayah Selatan yang lebih jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar