BANGSA ARAB SEBAGAI RAS
SEMIT DAN SEMENANJUNG ARAB SEBAGAI TEMPAT KELAHIRANNYA
·
Beberapa Fenomena Dunia
Arab
Sebagai
kelahiran rumpun Semit, semenanjung Arab
menjadi tempat menetap orang-orang yang kemudian bermigrasi ke wilayah bulan
sabit subur, yang kelak di kenal dalam sejarah sebagai bangsa Babilonia,
Assyria, Phoenisia, dan Ibrani. Sebagai tempat munculnya tradisi Semit sejati,
wilayah gurun pasir Arab merupakan tempat lahirnya tradisi Yahudi, kemudian
Kristen yang secara bersama-sama membentuk karakteristik rumpun semit yang
telah dikenal baik. Pada abad pertengahan, semenanjung Arab melahirkan sebuah
bangsa yang menaklukan sebagian besar wilayah dunia yang kelak menjadi
pusat-pusat peradaban, dan melahirkan sebuah agama Islam yang di anut oleh
sekitar 450 juta orang, yang mewakili hampir semua ras di berbagai kawasan.
Satu dari delapan di dunia adalah pengikut Muhammad.
Bangsa
Arab bukan hanya membangun kerajaan, melainkan juga kebudayaan. Sebagai pewaris
peradaban kuno yang berkembang pesat di tepi sungai Tigris dan Efrat, di
daratan sekitar sungai Nil dan di pantai sebelah timur Mediterania, mereka juga
menyerap dan memadukan beragam unsur budaya Yunani-Romawi; berperan sebagai
pembawa gerakan intelektual ke Eropa abad pertengahan yang memicu kebangkitan
dunia Barat dan melapangkan jalan bagi proses mordenisasi di dunia Barat.
Agama
yang dianut orang Arab, setelah agama Yahudi dan Kristen, merupakan agama
terbesar ketiga dan agama monoteis terakhir. Secara historis, Islam merupakan
penerus kedua agama sebelumnya, dan dari semua agama lain di dunia, Islam
memiliki hubungan yang paling dekat dengan kedua agama itu. Ketiga agama bersar
dunia itu merupakan hasoil dari satu kehidupan spiritual yang sama, yaitu
spiritual semit. Dengan beberapa pengecualian, seorang muslim yang taat
mengakui sebagian besar ajaran Kristen. Islam telah, dan masih menjadi kekuatan
yang hidup mulai dari Maroko hingga Indonesia, dan menjadi pilihan jalan hidup
jutaan umat manusia. Bahasa Arab kini menjadi alat komunikasi bagi sekitar
seratus juta orang. Pada abad pertengahan, selama ratusan tahun bahasa Arab
merupakan bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progesif di seluruh
wilayah dunia yang beradab.
Belakangan
ini, posisi mereka di tingkat internasional berada di tengah kancah perang
dingin antara Barat dan Timur. Tanah mereka mengandung cadangan energi cair
terbesar di dunia, minyak bumi, yang ditemukan pertama kali pada 1932. Satu
demi satu sejak perang dunia pertama, bangsa-bangsa Arab bangkit dan memperoleh
kemerdekaannya. Untuk pertama kalinya sejak kelahiran Islam, sebagian besar
wilayah semenanjung Arab di kendalikan oleh satu pemerintahan, yaitu keluarga
su’udi. Setelah meengalami masa pemerintahan kerajaan, Mesir mendeklarasikan
bentuk pemerintahan republik pada 1952. Deklarasi tersebut kemudian diikuti
oleh Suriah ibu kotanya. Damaskus, pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan
Umayyah yang telah memerdekakan diri dari kekuasaan Prancis tujuh tahun
sebelumnya.
·
Eksplorasi Modern
Eropa klasik telah mengenal kawasan Arab sebelah
selatan; Heredotus, diantaranya, pernah membicarakan pesisir Arab sebelah
barat. Orang Yunani dan Romawi tertarik pada semenanjung Arab karena Arab
bagian selatan menjadi produsen gaharu dan rempah-rempah, serta berperan
sebagai jalur penghubung ke pasar-pasar di India dann Somalia.
·
Hubungan Etnis
Bangsa-bangsa Semit
Di antara dua keturunan bangsa Semit yang masih
bertahan saat ini, orang-orang keturunan Arab yang jumlahnya lebih banyak
ketimbang keturunan Yahudi telah melestarikan cirri khas fisik dan sikap mental
rumpun bangsa ini. Karena itu, bahasa Arab merupakan kunci penting untuk
mempelajari bahasa-bahasa Semit lainnya. Agama Islam dalam bentuknya yang asli,
juga merupakan penyempurnaan logis dari agama-agama Semit.
Alasan-alasan kenapa bangsa-bangsa yang berbahasa
Arab, terutama suku-suku nomad, dianggap sebagai representasi terbaik dari
rumpun Semit, baik dari sisi biologis, psikologis social maupun bahasa, bias
ditelusuri dari keterasingan mereka secara geografis dan dari keseragaman
kehidupan padang pasir yang monoton. Karakteristik etnis mereka yang khas
dibentuk oleh lingkungan yang keras dan terisolasi, misalnya yang berada di
kawasan Arab bagian tengah.
·
Kondisi
Geografis Semenanjung Arab
Wilayahnya, dengan luas 1.745.900 km², dihuni oleh
sekitar empat belas juta jiwa. Arab Saudi, dengan luas daratan sekitar
1.014.900 km² (tidak termasuk al-Rab al-Khali), berpenduduk sekitar tujuh juta
jiwa; Yaman lima juta jiwa; dan selebihnya tinggal di Kuwait, Qatar, Emirat
Arab, Oman dan Masqat, dan Aden. Arab merupakan wilayah yang bergurun, ada tiga
jenis gurun:
1.
Nufud besar,
sebuah bentangan daratan berpasir putih atau kemerahan yang menyelimuti wilayah
yang sangat luas di semenanjung Arab utara.
2.
Al-Dahna (tanah
merah), daratan berpasir merah yang membentang dari Nufud besar di utara hingga
al-Rab al Khali di selatan.
3.
Al-Harrah,
sebuah daratan yang terbentung dari lava bergelombang dan retak-retak di atas
permukaan pasir berbatu.
Dari sisi
kondisi cuaca, semenanjung Arab merupakan salah satu wilayah terkering
terpanas. Meskipun diapit oleh lautan di sebelah barat dan timur, laut itu
terlalu kecil untuk dapat memengaruhi kondisi cuaca Afro-Asia yang jarang turun
hujan. Di Hijaz, tempat kelahiran Islam, musim kering yang berlangsung selama
tiga tahun atau lebih merupakan hal yang lumrah.
·
Kondisi Lahan,
Budidaya Tanaman, dan Fauna
Hijaz banyak di
tumbuhi pohon kurma. Gandum tumbuh di Yaman dan oasis-oasis tertentu. Barley
ditanam untuk makanan kuda. Biji-bijian tumbuh di wilayah tertentu, dan padi
tumbuh di Oman dan Hasa. Ada satu jenis tumbuhn yang menjadi primadona
pertanian di semenanjung Arab, yaitu kurma. Buah kurma sangat dikenal luas di
dunia, banyak di minati dan bernilai tinggi.
Hewan yang
paling banyak di pelihara adalah unta, keledai, anjing penjaga, anjing pemburu,
kucing, domba, dan kambing. Menurut cerita, keledai di bawa dari Mesir setelah
masa Hijrah Nabi.
·
Kehidupan Badui
di Semenanjung Arab
Berdasarkan dua
karakteristik daratannya, penduduk semenanjung Arab terbagi ke dalam dua
kelompok utama; orang-orang desa (badui) yang nomad dan masyarakat perkotaan. Lebih
dari segala makhluk hidup di gurun, orang-orang badui, unta dan pohon kurma
merupakn tiga unsure yang paling penting; di tambah gurun pasir, keempatnya
merupakan pemain penting dalam panggung kehidupan gurun.
Kondisi alam,
dan pola hubungan antara masyarakat yang terjalin di kawasan ini sangat
memengaruhi pemikiran dan gagasan mereka tentang Tuhan, agama, dan
spiritualitas. Dasar-dasar agama-agama Semit berkembang di oasis-oasis, bukan
di daratan pasir, dan berpusat di wilayah yang berbatu dan bermata air, dalam
Islam di wakili dengan symbol Hajar Aswad dan sumur Zamzam, serta dengan bethel
dan perjanjian lama. Bagi orang-orang badui, agama hanya sedikit terlintas
dalam hati mereka. Menurut penilaian Alquran (Q.S. 9:98), “Orang-orang badui itu lebih condong pada kekafiran dan kemunafikan.”
Bahkan hingga saat ini, mereka hanya melantunkan puji-pujian, dan penghormatan
formalitas kepada Nabi, tidak di sertai keyakinan dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar