Minggu, 01 Maret 2015

Resume Buku (History Of The Arabs)


BANGSA ARAB SEBAGAI RAS SEMIT DAN SEMENANJUNG ARAB SEBAGAI TEMPAT KELAHIRANNYA
·         Beberapa Fenomena Dunia Arab
Sebagai kelahiran rumpun Semit, semenanjung  Arab menjadi tempat menetap orang-orang yang kemudian bermigrasi ke wilayah bulan sabit subur, yang kelak di kenal dalam sejarah sebagai bangsa Babilonia, Assyria, Phoenisia, dan Ibrani. Sebagai tempat munculnya tradisi Semit sejati, wilayah gurun pasir Arab merupakan tempat lahirnya tradisi Yahudi, kemudian Kristen yang secara bersama-sama membentuk karakteristik rumpun semit yang telah dikenal baik. Pada abad pertengahan, semenanjung Arab melahirkan sebuah bangsa yang menaklukan sebagian besar wilayah dunia yang kelak menjadi pusat-pusat peradaban, dan melahirkan sebuah agama Islam yang di anut oleh sekitar 450 juta orang, yang mewakili hampir semua ras di berbagai kawasan. Satu dari delapan di dunia adalah pengikut Muhammad.
Bangsa Arab bukan hanya membangun kerajaan, melainkan juga kebudayaan. Sebagai pewaris peradaban kuno yang berkembang pesat di tepi sungai Tigris dan Efrat, di daratan sekitar sungai Nil dan di pantai sebelah timur Mediterania, mereka juga menyerap dan memadukan beragam unsur budaya Yunani-Romawi; berperan sebagai pembawa gerakan intelektual ke Eropa abad pertengahan yang memicu kebangkitan dunia Barat dan melapangkan jalan bagi proses mordenisasi di dunia Barat.
Agama yang dianut orang Arab, setelah agama Yahudi dan Kristen, merupakan agama terbesar ketiga dan agama monoteis terakhir. Secara historis, Islam merupakan penerus kedua agama sebelumnya, dan dari semua agama lain di dunia, Islam memiliki hubungan yang paling dekat dengan kedua agama itu. Ketiga agama bersar dunia itu merupakan hasoil dari satu kehidupan spiritual yang sama, yaitu spiritual semit. Dengan beberapa pengecualian, seorang muslim yang taat mengakui sebagian besar ajaran Kristen. Islam telah, dan masih menjadi kekuatan yang hidup mulai dari Maroko hingga Indonesia, dan menjadi pilihan jalan hidup jutaan umat manusia. Bahasa Arab kini menjadi alat komunikasi bagi sekitar seratus juta orang. Pada abad pertengahan, selama ratusan tahun bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progesif di seluruh wilayah dunia yang beradab.
Belakangan ini, posisi mereka di tingkat internasional berada di tengah kancah perang dingin antara Barat dan Timur. Tanah mereka mengandung cadangan energi cair terbesar di dunia, minyak bumi, yang ditemukan pertama kali pada 1932. Satu demi satu sejak perang dunia pertama, bangsa-bangsa Arab bangkit dan memperoleh kemerdekaannya. Untuk pertama kalinya sejak kelahiran Islam, sebagian besar wilayah semenanjung Arab di kendalikan oleh satu pemerintahan, yaitu keluarga su’udi. Setelah meengalami masa pemerintahan kerajaan, Mesir mendeklarasikan bentuk pemerintahan republik pada 1952. Deklarasi tersebut kemudian diikuti oleh Suriah ibu kotanya. Damaskus, pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Umayyah yang telah memerdekakan diri dari kekuasaan Prancis tujuh tahun sebelumnya.
·         Eksplorasi Modern
Eropa klasik telah mengenal kawasan Arab sebelah selatan; Heredotus, diantaranya, pernah membicarakan pesisir Arab sebelah barat. Orang Yunani dan Romawi tertarik pada semenanjung Arab karena Arab bagian selatan menjadi produsen gaharu dan rempah-rempah, serta berperan sebagai jalur penghubung ke pasar-pasar di India dann Somalia.
·         Hubungan Etnis Bangsa-bangsa Semit
Di antara dua keturunan bangsa Semit yang masih bertahan saat ini, orang-orang keturunan Arab yang jumlahnya lebih banyak ketimbang keturunan Yahudi telah melestarikan cirri khas fisik dan sikap mental rumpun bangsa ini. Karena itu, bahasa Arab merupakan kunci penting untuk mempelajari bahasa-bahasa Semit lainnya. Agama Islam dalam bentuknya yang asli, juga merupakan penyempurnaan logis dari agama-agama Semit.
Alasan-alasan kenapa bangsa-bangsa yang berbahasa Arab, terutama suku-suku nomad, dianggap sebagai representasi terbaik dari rumpun Semit, baik dari sisi biologis, psikologis social maupun bahasa, bias ditelusuri dari keterasingan mereka secara geografis dan dari keseragaman kehidupan padang pasir yang monoton. Karakteristik etnis mereka yang khas dibentuk oleh lingkungan yang keras dan terisolasi, misalnya yang berada di kawasan Arab bagian tengah.
·         Kondisi Geografis Semenanjung Arab
Wilayahnya, dengan luas 1.745.900 km², dihuni oleh sekitar empat belas juta jiwa. Arab Saudi, dengan luas daratan sekitar 1.014.900 km² (tidak termasuk al-Rab al-Khali), berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa; Yaman lima juta jiwa; dan selebihnya tinggal di Kuwait, Qatar, Emirat Arab, Oman dan Masqat, dan Aden. Arab merupakan wilayah yang bergurun, ada tiga jenis gurun:
1.      Nufud besar, sebuah bentangan daratan berpasir putih atau kemerahan yang menyelimuti wilayah yang sangat luas di semenanjung Arab utara.
2.      Al-Dahna (tanah merah), daratan berpasir merah yang membentang dari Nufud besar di utara hingga al-Rab al Khali di selatan.
3.      Al-Harrah, sebuah daratan yang terbentung dari lava bergelombang dan retak-retak di atas permukaan pasir berbatu.
Dari sisi kondisi cuaca, semenanjung Arab merupakan salah satu wilayah terkering terpanas. Meskipun diapit oleh lautan di sebelah barat dan timur, laut itu terlalu kecil untuk dapat memengaruhi kondisi cuaca Afro-Asia yang jarang turun hujan. Di Hijaz, tempat kelahiran Islam, musim kering yang berlangsung selama tiga tahun atau lebih merupakan hal yang lumrah.
·         Kondisi Lahan, Budidaya Tanaman, dan Fauna
Hijaz banyak di tumbuhi pohon kurma. Gandum tumbuh di Yaman dan oasis-oasis tertentu. Barley ditanam untuk makanan kuda. Biji-bijian tumbuh di wilayah tertentu, dan padi tumbuh di Oman dan Hasa. Ada satu jenis tumbuhn yang menjadi primadona pertanian di semenanjung Arab, yaitu kurma. Buah kurma sangat dikenal luas di dunia, banyak di minati dan bernilai tinggi.
Hewan yang paling banyak di pelihara adalah unta, keledai, anjing penjaga, anjing pemburu, kucing, domba, dan kambing. Menurut cerita, keledai di bawa dari Mesir setelah masa Hijrah Nabi.

·         Kehidupan Badui di Semenanjung Arab
Berdasarkan dua karakteristik daratannya, penduduk semenanjung Arab terbagi ke dalam dua kelompok utama; orang-orang desa (badui) yang nomad dan masyarakat perkotaan. Lebih dari segala makhluk hidup di gurun, orang-orang badui, unta dan pohon kurma merupakn tiga unsure yang paling penting; di tambah gurun pasir, keempatnya merupakan pemain penting dalam panggung kehidupan gurun.

Kondisi alam, dan pola hubungan antara masyarakat yang terjalin di kawasan ini sangat memengaruhi pemikiran dan gagasan mereka tentang Tuhan, agama, dan spiritualitas. Dasar-dasar agama-agama Semit berkembang di oasis-oasis, bukan di daratan pasir, dan berpusat di wilayah yang berbatu dan bermata air, dalam Islam di wakili dengan symbol Hajar Aswad dan sumur Zamzam, serta dengan bethel dan perjanjian lama. Bagi orang-orang badui, agama hanya sedikit terlintas dalam hati mereka. Menurut penilaian Alquran (Q.S. 9:98), “Orang-orang badui itu lebih condong pada kekafiran dan kemunafikan.” Bahkan hingga saat ini, mereka hanya melantunkan puji-pujian, dan penghormatan formalitas kepada Nabi, tidak di sertai keyakinan dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar