Minggu, 01 Maret 2015

Riwayat Sultan Hamengku Buwono IX

Peran Hamengku Buwono IX dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hingga Waktu Awal Yogyakarta menjadi Ibukota Republik Indonesia (1945-1946)
A.    Arti kata Kraton
Karaton ialah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata : ka + ratu + an = kraton. Kraton juga disebut kadaton : ka + datu + an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya adalah istana. Jadi Kraton adalah sebuah istana, tetapi istana bukanlah Kraton. Kraton ialah sebuah Istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat atau arti kebudayaan.[1]

B.     Awal Mula Berdirinya Kraton Yogyakarta
Setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 ditandatangani, hutan beringin mulai dibuka, yaitu disebuah pedukuhan yang disebut Pacethokan. Tempat itu dibuka untuk pembangunan istana raja dan rumah-rumah para bupati. Di dalam babad juga disebutkan bahwa hutan itu merupakan daerah hunian binatang buas, yang karena pembangunan itu dipindahkan ke hutan lain atau disingkirkan ke daerah pegunungan. Pada waktu hutan itu dibuka, Sultan bertempat tinggal di Gunung Gamping yang juga dicatat di dalam babad Giyanti. Tempat itu terletak kurang lebih 5 km sebelah barat Yogyakarta sekarang, dan dahulu pernah dipakai sebagai tempat kraman Raden Mas Guntur dengan para pengikutnya.
Setelah istana selesai, pindahlah Hamengku Buwono I ke kota, yang kemudian bernama Ngayogyakarto Hadiningrat. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kota Yogyakarta adalah faktor sejarah, keagamaan, pengalaman pribadi Mangkubumi sendiri, dan adanya unsur asing dalam diri tentara V.O.C yang kemudian hari bertambah dengan pengaruh pemerintahan Inggris di awal abad ke-19.[2]Kraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1756. Luas Kraton Yogyakartadikelilingi oleh sebuah tembok 14.000 meter persegi.Kompleks Kraton dikelilingi oleh sebuah tembok lebar, beteng namanya.[3]
Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai jagad.Wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang esensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani. Dari Utara ke Selatan area Kraton berturut-turut terdapat Alun-alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan, dan Alun-alun Selatan (pelataran yang terlindung dinding tinggi). Sedangkan pintu yang harus dilalui untuk sampai ke masing-masing tempat berjumlah sembilan, disebut Regol. Brongtodiningrat memandang penting bilangan ini sebagai bilangan tertinggi yang menggambarkan kesempurnaan.
Kesakralan setiap bangunan Kraton, diindikasikan dari frekuensi serta intensitas kegiatan Sultan pada tempat tersebut.Kraton Yogyakarta memanglah bangunan tua, pernah rusak dan dipugar. Dilihat sekilas seperti bangunan Krtaon pada umumnya. Tetapi bila kita mendalami Kraton Yogyakarta, yang merupakan contoh terbesar dan terindah dengan makna simbolis, sebuah filosofi kehidupan, hakikat seorang manusia, bagaimana alam bekerja, dan manusia menjalani hidupnya, dan berbagai perlambangan eksistensi kehidupan terpendam didalamnya.[4]Krtaon Yogyakarta mempunyai arti pada setiap arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukurannya, hiasannya, warna gedung-gedungnya.
Pohon yang di tanam di dalamnya bukan sembarangan pohon. Arsitek Kraton Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamengku Buwono I.Nama kampung-kampung di kompleks Kraton ada hubungannya antara penduduk kampung dengan tugasnya di Kraton pada waktu dahulu, misalnya : Gendekan = tempat tinggal gendek-gendek dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal prajurit Wirobraja. Daerah Kraton terletak di Hutan Garijawati, dekat desa beringin dan desa pacetokan.[5]

C.     Kraton Yogyakarta Dibawah Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Pemerintahan barat yang dijalani oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sejak usia 4 tahun, menemukan banyak alternatif budaya untuk menyelenggarakan Kraton Yogyakarta di kemudian hari. Berbagai tradisi Kraton yang kurang menguntungkan oleh Sultan Hamengku Buwono IX dihapusnya dengan alternatif budaya baru. Meskipun demikian bukan berarti Sultan Hamengku Buwono IX menghilangkan substansinya yang sejauh itu perlu dipertahankan. Bahkan wawasan budayanya yang luas mampu menemukan terobosan baru untuk memulihkan kejayaan Kasultanan Yogyakarta.[6] Pada masa pendudukan Jepang dihilangkannya pemerintahan pepatih dalem oleh Sultan Hamengkubuwono IX untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti pada masa sebelumnya.[7]



D.    Riwayat Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Sultan Hamengku Buwono IX dilahirkan di nDalem Pakuningratan Kampung Sompilan Ngasem pada hari Sabtu Pahing tanggal 12 April 1912 dengan nama Gusti Pangeran Haryo Puruboyo Mas Dorojatun. Ayahnya bernama Gusti Pangeran Haryo Puruboyo dan ibunya bernama Raden Ajeng Gusti Adipati Anom. Ketika berusia 3 tahun Dorodjatun diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Kanjeng Gusti Adipati Anom Hamengku Nagara Sudibya Raja Putra Narendra ing Mataram.Sejak usia 4 tahun Dorodjatun sudah hidup terpisah dari keluarganya, dititipkan pada keluarga Mulder seorang Belanda yang tinggal di Gondokusuman untuk mendapat pendidikan, yang penuh disiplin dan gaya hidup yang sederhana sekalipun ia putra seorang raja. Dalam keluarga Mulder itu Dorodjatun diberi nama panggilan Henkie.
Henkie mulai bersekolah di TK atau Frobel School asuhan Juffrow Willer, yang terletak di Bintaran Kidul.Pada usia 6 tahun Dorodjatun masuk sekolah dasar Eerste Europese Lagere School dan tamat pada tahun 1925. Kemudian Dorodjatun melanjutkan pendidikan di Hogere Burger School (HBS setingkat SMP dan SMA) di Semarang dan kemudian di Bandung. Tahun 1931 ia berangkat ke Negeri Belanda untuk kuliah di Rijkuniversiteit Leiden, mengambil jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi. Henki kembali ke Indonesia pada tahun 1939.Setahun kemudian, hari Senin pon tanggal 18 Maret 1940, Dorodjatun dinobatkan sebagai raja Ngayogyakarto Hadiningrat dengan gelar Sampeyan Dalem Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifahtullah Ingkang Kaping IX.Sultan Hamengku Buwono IX adalah bangsawan yang demokratis.
Pemerintahan Kasultanan Yogyakarta mengalami banyak perubahan dibawah pimpinannya. Konsep yang dibawa Sultan Hamengku Buwono IX bukan lagi agung binathara melainkan demokratis, Raja berprinsip kedaulatan rakyat tetapi tetap berbudi bawa leksana. Sultan Hamengku Buwono IX memiliki paham kebangsaan yang tinggi.[8]Sultan HamengkuBuwono IX memiliki 5 Isteri, memiliki 15 Putra dan 7 puteri. Salah satu isterinya adalah R.A Siti Kustinah atau R.Ay Adipati Anum yang dinikahinya pada tahun 1943 dan merupakan ibunda dari Sultan Hamengku Buwono X.[9]
Sultan Hamengku Buwono IX mendapat amanah sebagai pemimpin tradisional dan pemimpin formal senantiasa demi bangsa dan negara. Hal ini sepanjang dia menjabat hingga wafat telah ditunaikan dengan cukup prima dan sempurna.Hamengku Buwono IX telah sadar sepenuhnya akan dimensi kultural dari keberadaan Kraton Ngayogyakarta.Ajaran pangracutan dari Sri Sultan Agung, tidak hanya dihayati secara pribadi, melainkan juga dilaksanakan secara sosial. Tahta Untuk Rakyat adalah bukti nyata pemahaman dan pengahayatan Sinuwun Hamengku Buwono IX akan pedoman hidup tersebut.[10]Sultan Hamengku Buwono IX meninggal pada usia 79 tahun, hari Senin Wage, 3 Oktober 1988, di Rumah Sakit Wasington Amerika, dan beliau dimakamkan di Pasareyan Saptarengga Pajimatan Imagiri.[11]

E.     Peran Sultan Hamengku Buwono IXdalam Proklamasi Republik Indonesia 1945
Berita Proklamasi samapi di Yogyakarta melalui kantor Domei (radio pemerintah Jepang) di jalan Malioboro, Yogyakarta. Berita proklamasi itu telah mengejutkan pemerintah militer Jepang di Yogyakarta, untuk mencegah perluasan pemberitaan maka pihak gunseinkanbu segera mengeluarkan larangan pengeluaran. Usaha gunseikanbu gagal karena berita sudah  terlanjur diberitakan ke kabupaten-kabupaten dan masjid besar kauman, sehingga berita proklamasi dengan singkat menyebar kepada masyarakat Yogyakarta.[12] Walaupun penyiaran berita proklamasi itu dilarang tetapi para wartawan tetap menyiarkan berita itu dari mulut ke mulut.[13]
Dengan di proklamasikannya kemerdekaan Indonesai pada tanggal 17 Agustus 1945 berarti Indonesaia telah malai sebagai suatu Negara yang merdeka. Perkataan Revolusi yang nasional mempunyai makna yang khas bagi bangsa Indonesia, yaitu suatu revolusi untuk merubah tata kehidupan kolonial atau feodal kepada tata kehidupoan nasional yang merdeka.[14] Pernyataan tersebut memiliki kemampun mengorbankan semangat rakyat untuk memobilisir masa demi terwujudnya revolusi Indonesaia. Pernyataan raja yang sangat berpengaruh bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya menjadikan masyarakat menurut pada apa yang dikatakan raja, dan semakin membenci penjajahan.[15]
Pandangan  rakyat Yogyakarta yang  terpusat pada raja tetap berjalan terus pada masa revolusi kemerdekaan dan masa-masa selanjutnya. Bagi Sultan ada hal yang mendasar bagi terciptanya suasanan tertib dan tennag di daerahnya, walaupun suasana pada masa awal kemerdekaan diwarnai berbagai gejolak masyarakat. Sultan menegaskan  membangun suatu komunikasi yang lebih baik adalah cara yang tepat yang selalu dijalankan sejak dulu. Dengan komunikasi itu Sultan telah membangun hubungan yang kokoh dengan rakyatnya yang dapat dijadikan modal bagi perjuangan selanjutnya.[16]
Tokoh yang pertama kali mengucapkan selamat atas terselenggarakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri paku Alam VIII dari Yogyakarta. Ucapan selamat ini disampaiakan kepada Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 18 Agustus 1945. Pada tanggal 19 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengadakan sidang istimewa di Gedung Sono Budoyo. Sidang tersebut anatara lain memutuskan mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia dan tunduk pada perintah dari Jakarta.[17]Semangat rakyat Yogyakarta dalam menyambut proklamasi kemerdekaan pada tangga 17 Agustus 1945 amat gegap gempita. Hal ini dapat dibuktikan saat Yogyakarta digunakan sebagai ibukota perjuanagan Republik Indonesia yang baru berdiri.
Yogyakarta menjadi ibukota RI tahun 1946-1949. Kemerdekaan Indonesia setelah dicetuskan oleh kedua proklamatornya, Soekarno-Hatta, hanya dapat dicapai karena beroperasinya suatu kombinasi berbagai faktor. Sultan Hamengku Buwono IX sebagai single factor yang unik, yang kesetiannya kepada Republik Indonesia memelihara Yogyakarta sebagai jantung Republik.Jika kita amati dari dekat, kita akan terkesan bahwa ia benar-benar hidup dalam dua dunia tanpa mengalami kesulitan.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dapat mempersatukan dua dunia dalam dirinya dengan cukup berhasil. Di dunia yang satu, ia dalah raja dalam arti kata yang sebenarnya. Dia adalah pewaris tahta, pemegang gelar dalam deretan silsialah gemilang raja-raja Mataram. Di Kratonnya yang penuh tradisi, dia adalah kepala dari segenap kerabat berdarah biru yang disembah kawulanya. Disini berbagai jenis pusaka masih diagungkan, berbagai larangan masih di tegakkan dan hanya dapat dimengerti melaui jalan mistik, dan hubungan dengan leluhurpun tidak mustahil.
Di dunia yang kedua ia adalah seorang berfikiran progresif. Pendidikan barat telah membuatnya menjadi bersikap demokratis, terbuka terhadap hal-hal baru dan gagasan pembaruan. Ia sendiri bahkan telah melaksanakan beberapa pembaharuan sejak naik tahta, misalnya penghapusan Pengadilan Darah Dlaem yang digantinya dengan proses pengadilan biasa. Ia pun telah mempraktikan demokratisasai melalui pemberian otonomi di kabupaten seluruh Daerah istimewa Yogyakarta sejak akhir zaman pendudukan Jepang. Langkah-langkahnya ini membuktikan bahawa ia adalah seorang pembaru, sebagain berdasarkan pola yang telah disusunnya sejak masih menjadi mahasiswa di kota Leiden dulu.[18]
Kelakuanya tampak sederhana dan kesenanganyna untuk membaur di tengah orang bisa dan leluasa pergi kemana-mana dengan membawa mobil sendiri.[19]Kraton dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia terpanggil untuk ikut serta secara aktif mengisi kemerdekaan, melaksanakan pembangunan di segala bidang, sesuai dengan tekat Hamengku Buwono. Sikapanya dipertegas lagi dengan peranannya selama revolusi : Pemerintah pusat RI pada masa penuh kesukaran hidup berkat bantuan keuangannya.[20] Dengan proklamasi 17 Agustus 1945, kedaulatan ditangan rakyat. Juga maklumat 5 September 1945 rakyat Yogyakarta mendukung Proklamasi dan berpihak kepada Republik.
Maka dengan panggilan sejarah sekarang segenap kompenen rakyat Yogyakarta tampil mendukung gerakan reformasi nasional bersama kekuatan reformasi yang lain.[21]Pada 17 Agustus 1945 sekitar pukul 12.00 siang. Kantor berita Domei Yogyakarta telah menerima berita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi Sultan pribadi proklamasi kemerdekaan merupakan peristiwa yang membuka jalan untuk melepaskan diri dari penderitaan bathin, sekaligus menempuh jalan bebas guna menentukan nasib sendiri di kemudian hari. Begitu mendengar berita proklamasi kemerdekaan, Sultan segera memanggil Sri Paku Alam VIII dan KRT Honggowongso, seorang staff senior di Kepatihan.
Pada waktu itu Sri Sultan meminta pertimbangan, “bagaimana sikap kita sebaiknya”.Oleh Paku Alam dikatakan bahwa soal kemerdekaan Indonesia memang sudah lama kita cita-citakan. Maka dari itu mereka memberi dukungan sepenuhnya terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Sri Sultan Kemudian berkata, “bahwa memang itulah pendirian saya”, untuk selanjutnya KRT Honngowongso diperintahkan mempersiapkan sebuah telegram. Pada 18 Agustus 1945 Sri Sultan langsung mengirim telegram kepada Soekarno-Hatta dan KRT Rajiman Wedidiningrat mantan ketua BPUPKI.
Dengan spontan Sultan mengucapkan selamat atas terbangunnya Negara Republik Indonesia dan terpilihnya kedua pemimpin itu sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Pengiriman telegram hanya diketahui beberapa orang yang dekat dengan sultan. Keesokan harinya pukul 09.00, Sultan mengintruksikan agar kelompok-kelompok pemuda berkumpul di Bangsal Kepatihan.Keesokan harinyayaitu 20 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku ketua Kooti Hookoookai untuk kedua kalinya mengirim telegram kepada Presiden dan Wakil Presiden. Dalam telegram ini ia secara tegas menyatakan “Sanggup berdiri dibelakang pemimpin Paduka Yang Mulia”.
Sultan mengajak bangsa Indonesia untuk menggalang persatuan dan kesatuan, guna mempertahankan kemerdekaannya. Pada 24 Agustus 1945 dengan dukungan Sultan dan Paku Alam, rakyat membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Sri Sultan maupun Paku Alam mengakui KNID sebagai badan perwakilan rakyat.[22] Setelah diadakan proklamasi kemerdekaan dan setelah berdasarkan segala sesuatu revolusi Indonesia mencetus dan berkobar dengan dahsyatnya, maka rakyat menghendaki dengan keras, agar Kasultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman itu secara positif menyatakan dengan tegas, apakah akan meihak kepada Republik Indonesia, ataukah akan bersikap ragu-ragu sambil memeperhitungkan kemungkinan akan berkuasanya lagi penajah Belanda di Indonesia. Desakan rakyat yang keras ini mendapat tanggapan yang positif dari Sri Sultan dan Paku Alam dengan dikeluarkannya Amanat 5 September 1945.[23]
Wawasan kebangsaan Sultan Hamengku Buwono IX terlihat dari sikap tegasnya yang mendukung Republik Indonesia dengan sangat konsekuen. Setelah proklamasi Republik Indonesia dikumandangakan, Sultan Hamengku Buwono IX mengirimkan amanat kepada Presiden Republik Indonesia, pada 5 September 1945 yang menyatakan bahwa Kasultanan Yogyakarta mendukung pemerintahan dan Negara Republik Indonesia. Amanat 5 September didasarkan pada nasib masa depan bagi kerajaan dan rakyat Yogyakarta.Sultan menyadari bahwa kemerdekaan merupakan kepentingan bangsa yang besar, bukan kepentingan daerah-daerah. Bergabungnya Yogyakarta dengan pemerintahan RI tidak didarakan pada perhitungan “untung-rugi” secara bisnis. Akan tetapi pernyataan itu terjadi karena keikhlasan dalam perjuangan yang dilandasi oleh semangat kebangsan.[24] Pernyataan Sultan Hamengkubuwono IX adalah sebagai berikut :
Kami, HAMENGKUBUWONO IX, Sultan Negeri Ngayogyakarto
Hadiningrat menyatakan :
1.    Bahwa Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan
adalah Daerah Istimewa dari Negara Republik Indonesia.
2.    Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan
daalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngayogyakarto Hadingrat mulai saat ini
berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnya kami pegang seluruhnya.
3.      Bahwa perhubungan anatara Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat dengan pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggungjawab atas Negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaya segenap penduduk dalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat mengindahkan amanat kami ini.

Ngayogyokarto Hadiningrat, 28 Puasa, Ehe 1876.[25]

Amanat 5 September ini beresiko tinggi, sebab serdadu Jepang di tangsi-tangsi di Yogyakarata dan sekitarnaya masih bersenjata lengkap. Dukungan terhadap tindakan Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII diberikan pula oleh tokoh-tokoh politik yang tinggal di Yogyakarta, baik yang bekerja sama dengan Jepang maupun yang berjuaang di dalam tanah. Mereka berada di tengah-tengah kelompok-kelompok pemuda dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh yang ada di Jakarta seperti Moh. Asrar. Tokoh-tokoh politik ini mempunyai hubungan dekat dengan Soekarno.[26]Pernyataan Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII pada 5 September 1945 menjadikan kota Yogyakarta utuh tanpa pembagian daerah barat dan timur sungai. Menurut maklumat Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 18 tentang DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikeluarkan pada 18 Mei 1946 sebenarnya berawal dari pokok peraturan maklumat nomor 7 yang dikeluarkan 6 Desember 1945.[27]
Namun demikian dalam mengeluarkan amanat itu Sultan tidak mengabaikan perhitungan yang cermat atas kekuatan yang ada di pihaknya yaitu kaum intelektual, tokoh-tokoh politik, pemuda dan rakyat yang diajak bicara sebelum amanat 5 September diumumkan. Berdasarkan perhitungan itu Sultan tidak memendang Jepang begitu berat, meskipun masih menduduki pos-pos pemerintahan di Yogyakarta, tetapi dia justru mengkhawatirkan anacaman Belanda yang diduganya pasti akan tiba kembali di Yogyakarta. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa amanat 5 September itu merupakan gerakan terbuka pertama kali terhadap pemerintah tentara Jepang di Yogyakarta, yang sekaligus merupakan isyarat atau bahkan komando bagi rakyat Yogyakarta untuk bergerak.[28]Pada tanggal 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan Negeri Pakualaman yang kedua-duannya bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari negara Republik Indonesia.Hubungan antara kedua daerah itu dengan pusat, negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kedua penguasanya bertanggungjawab secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi baru sebagai konsekuensi logis dari proklamasi kemerdekaan. Kerajaan tradisional dengan sistem pemerintahan feodal dan teokratis itu dengan cepat mengubah diri menuju sistem pemerintahan yang demokratis. Perubahan berhasil dengan baik terutama disebabkan oleh sikap Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII yang terbuka untuk menerima perubahan.Suasana baru, suasanan kemerdekaan, suasana revolusi meliputi daerah kerajaan itu. Sebagai reaksi spontan dari rakyat Yogyakarta terhadap Proklamasi Republik Indonesia dan amanat kedua Sri Paduka tanggal 5 September 1945 itu pertama-tama terjadi peristiwa penurunan bendera Jepang dan penaikan Sang Merah Putih di Cokan Kantai (sekarang Gedung Agung Yogyakarta) pada tanggal 21 September 1945.
Melihat aksi-aksi yang dilakukan oleh masyarakat dan pemuda, maka Pusat Pimpinan Keamanan yang berkantor di Kepatihan diserahkan kepada Komite Nasional Indonesia (KNI) dan berada dibawah pimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Hal itu agar terdapat koordinasi dan ketertiban serta komando berada dalam satu tangan.[29]Serta ketika Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia mengalamai situasi gawat, Sultan Hamengku Buwono IX menyarankan agar Ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 januari 1946.Setelah proklamasi kemerdekaan 1945 Sultan Hamengku Buwono IX pernah mengemban jabatan menjadi kepala daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur Militer DIY.[30]Pada 6 September 1945 Presiden Soekarno mengutus dua orang Menteri Negara yaitu Mr. Sartono dan Mr. Maramisuntuk datang ke Yogyakarta dalam rangka menyampaikan “Piagam kedudukan Sri Sultan”.
Piagam kedudukan Sri Sultan tersebut memperkuat kedudukan Sultan dalam memimpin Yogyakarta. Kasultanan dan Pakualaman setelah Proklamasi Kemerdekaan, bersatu menyambut dan menyatakan diri sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia, yang pada akhirnya menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta.[31]Piagam tersebut sesungguhnya adalah tanda kepercayaan Republik Indonesia kepada Hamengku Buwono IX. Ini merupakan satu keputusan yang tepat karena ketika Republik muda ini menghadapi berbagai ancaman dari musuh ternyata Hamengku Buwono IX dan kota Yogyakarta menampilkan diri sebagai pendukung dan penyelamat yang tangguh. Urutan kejadian sebagaimana dilukiskan diatas menunjukan betapa tegas dan positif sambutan Hamengku Buwono IX terhadap lahirnya Republik Indonesia walaupun sebelumnya ia tak pernah berhubungan dengan Soekarno-Hatta dan kawan-kawan. Agaknya sama sekali tak ada keraguan padanya akan hari depan Republik baru itu.[32]
F.      Peranan Sultan Hamengku Buwono IX pada waktu awal Yogyakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia 1946
Berdasarkan kondisi yang tidak memungkinkan Ibu Kota Jakarta mengkordinasikan aktivitas pemerintahan, maka atas perhatian pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarata terhadap pemimpin-pemimpin RI itu rupanya mendorong Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Syahrir dalam sidang kabinet pada tanggal 3 Januari 1946 memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta. Tanggal 3 Januari 1946 malam, Presiden dan Wakil Presiden beserta beberapa pengawal diam-diam naik gerbong kereta api yang paling belakang yang sedang berhenti di rel Pegangsaan Timur dibelakang rumah kediaman Presiden Soekarno. Rangakaian kereta api yang di dalamnya sudah ada presiden dan pejabat RI lainnya, di tarik pelan-pelan mulai dari stasuin Pasar Senen ke Jatinegara dan terus menuju ke Yogyakarta. Mereka pergi tanpa membawa apapaun dan gerbong kereta api dibiarkan gelap seolah-olah merupakan rangakaian gerbong yang tidak penting. 4 Januari 1946 kereta api itu tiba di Yogyakarata sebagai kota harapan uuntuk melanjutkan perjuangan. Kedatangan mereka di stasiun Tugu Yogyakarta disambut oleh Sultan Hamengkubuwono IX dengan demikian berpindah ibu kota RI ke Yogyakarta.[33]
Republik Jogja adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut periode ketika kedudukan ibu kota Republik Indonesia berada di Yogyakarta, yaitu antara tanggal 4 Januari 1946 sampai tanggal 27 Desember 1949. Selama tiga tahun Keraton Yogyakartadan Pakualaman bagaikan tulang punggung yang menopang jalannya pemerintahan dan kelanjutan perjuangan RI. Atas inisiatif dan tawaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX ibu kota RI berpindah ke Yogyakarta.Tawaran Sri Sultan Hamengku Buwono ini mencerminkan keberanian dan jiwa patriotismenya. Saat itu hanya Sri Sultan hamengku Buwono IX lah yang berani menawarkan daerahnya menjadi pusat pemerintahan RI.
Sumbangsih Kraton Yogyakarta terhadap RI tidak hanya melalui peran aktif Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Menteri Negara dan Menteri Pertahanan, namun juga bantuan materi secara langsung dariKraton dan Pura Pakualaman.Menurut laporan Menteri Perburuhan dan sosial Kabinet Hatta I, Rahendara Koesnan, tujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan bantuan uang Belanda dalam jumlah sangat besar yang disimpan di Kraton kepada pejabat dan pegawai-pegawai pemerintah pusat adalah agar mereka jangan sampaimenyebrang kepada pihak Belanda karenatergiur uang Belanda. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyimpan uang Belanda tidak untuk kepentingan sendiri atau keluarganya tetapiuntuk kepentingan perjuangan kemerdekaan tanah iar.[34]Komitmen dan kesetiaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII terhadap pemerintah RI tidak diragukan lagi, sehingga Yogyakarta yang saat itu merupakan kerajaan dan ikut serta menyatu dengan RI memiliki arti tersendiri di mata pemerintaha pusat. Kasultanan Yogyakarta maupun daerah Pakualaman masing-masing menyatakan menyatu dalam wilayah negara Republik Indonesia. Sehingga kedua kerajaan yang berada diwilayah Yogyakarta itu dinyatakan sebagai Daerah Istimewa yang notabene terpisah diantara yang satu dengan yang lain.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII yang sudah begitu demokrat dan rasionalis serta berwawasan luas menyadari persoalan yang ada. Dengan terbentuknya badan KNI Yogyakarta, maka pada 30 Oktober 1945 kedua pimpinan Yogyakarta Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII secara bersama-sama megeluarkan amanat.[35]Pada tanggal 27 November 1945 pukul 13.00 pesawat terbang Inggris mulai lagi membom Kota Yogyakarta. Sebelum pemboman dilakukan penyebaran pamflet-pamflet. Setelah pamflet tersebar luas, maka tidak lama kemudian kira-kira pukul 13.30, 4 bomber dan sebuah pesawat pemburumengadakan pemboman dengan membabi buta selama satu jam lamanya. Akibatnya balai Mataram hancur dan banyak korban berjatuhan. Berhubung dengan kejadian itu, maka Sri Sultan Hamengku Buwono IX segera mengirimkan kawat kepada Presiden Soekarno.[36]
Sikap dan tindakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam mendukung pemerintahan baru Republik Indonesia bukan hanya sekedar “adab” belaka. Hal itu dibuktikan dengan kerelannya untuk menyediakan kota Yogyakarta sebagai tempat pemerintah pusat, selama Jakarta yang menjadi Ibu Kota Negara tidak aman dari gangguan musuh. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sangat menyayangkan tindakan Belanda terhadap pemimpin-pemimpin RI di Jakarta, dan mengancam akan mengadakan pembalasan terhadap pemimpin-pemimpin Belanada yang kebetulaan lewat Yogyakarta. Selain itu Sultan segera menawarkan Yogyakarta sebagai pusat dan tempat kedudukan pemerintah Republik. Dengan adanya tawaran seperti itu , maka pada 3 Januari 1946 sidang kabinet memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintah ke Yogyakarta.
Sri Sultan segera memberikan semua fasilitas untuk kelancaran roda pemerintahan RI. Gedung-gedung milik pemerintah kesultanan dan bagisan-bagian Kraton dimana perlu dapat dipergunakan. Sultan tetap cermat menempatkan dirinya sebagai tuan rumah yang tidak menonjolkan diri dalam lingkungan pemerintah pusat. Akan tetapi ia akan bekerja keras, kalau memang mendapat tugas di luar jabatan dan kedudukan sebagai kepala daerah. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sempat bertugas sebagai penghubung antara Jakarta dengan Ibukota Yogyakarta.
Dalam perjalanan selam 12 jam dengan kereta api ke Jakarta, Sultan sempat menukarkan berpeti-peti cerutu Yogya dengan ban mobil. Disamping itu Sultan membuka kas kerjanya untuk mengaji seluruh pegawai kantor dan instansi pemerintah RI. Dengan demikian tepatlah pilihan Presiden Sukarno atas Yogyakarta sebagai Ibu Kota negara RI. Itu disebabkan loyalitas Sultan kepada negara kebangsaan ternyata tinggi dan apa yang dikerjakan olehnya dijadikan pedoman orang-orang Yogyakarta pada umumnya.[37]Belum genap lima bulan setelah proklamasi atau tepatnya 4 Januari 1946, Ibu Kota negara dipindahkan ke Yogyakarta akibat Jakarta tidak aman lagi karena diduduki Belanda.
Sultan Hamengku Buwoo IX memberikan Istana Presiden sebagai tempat bagi kedua pemimpin RI untuk menjalankan pemerintahan.Yogyakarta akhirnya memiliki dua pemerintahan. Pemerintah RI berpusat di Istana Presiden dan Kesultanan Yogyakarta yang berpusat di Kraton. Keduanya selanjutnya dianggap sebagai titik awal revolusi di Yogyakarta dan Indonesia. Kebesaran hati Sultan Hamengku Buwono IX pun membuktikan bahwa ia bukan hanya seorang bangsawan, melainkan juga negarawan yang berpikir maju. Kerelaan untuk memberikan sebagian wilayahnya sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia, sebuah kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan kesultanan, merupakan wujud janji Sultan untuk ikut mempertahankan kemerdekaan.Ali Sastro Amidjojo, salah satu perdana menteri Republik Indonesia zaman Kabinet Parlementer, menggambarkan suasana kesultanan Yogyakarta pasca proklamasi cukup unik. Yogyakarta sedang dirundung euforia kemerdekaan, kebebasan tetapi aman. “Banyak pemuda berambut gondrong dan bersenjata masih berkeliaran. Pakaianya compang camping, sikap dan tingkah lakunya seperti pejuang yang baru saja menang perang. Mereka jaya, kuat dan gagah. Tanpa mereka, mungkin sejarah kemerdekaan negara kita akan lain sekali kesesudahannya”, paparnya.
Ketegasan Sultan untuk menopang perjuangan Soekarno-Hatta-Sjahrir, serta jaminan keamanan oleh masyarakat saat itu menjadi penentu nasib RI selanjutnya. Bahkan dalam masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Yogyakarta menjadi satu-satunya wilayah negara Republik Indonesia. Yogyakarta tak sekedar tempat perjuangan bersenjata, tetapi juga papan catur bagi politik diplomasi RI di awal kelahirannya. Dari perjanjian Hooge Volue, Linggarjati, Renville, hingga Konferensi Meja Bundar, semuannya digerakkan dari Yogyakarta. Bahkan Kaliurang beberapa kali dijadikan tempat negosiasi awal untuk merancang perundingan antara Republik Indonesia dan Belanda.
Peran Kesultanan dan Yogyakarta dalam sejarah Republik Indonesia sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia dan pusat pergerakan (revolusi) ke Yogyakarta tidak lepas dari peran politik Sultan yang menjadi pendobrak nilai-nilai ketertutupan Kraton.Justru revolusi sosial di Yogyakarta dimulai dari Krtaon sendiri, seperti menghapuskan sistem pemerintahan kepatihan dan menyediakan Siti Hinggil untuk pendidikan tinggi yang sekarang bernama Universitas Gadjah Mada. “Revolusi sosial di Yogyakarta dimulai dari atas ke bawah,” begitu Indonesians dari Monash University, M.C. Ricklefs menyebutnya.[38]Jadi dapatlah dikatakan bahwa masyarakaat Yogyakarta sudah siap menyambut proklamasi kemerdekaan, mulai dari Sultan Hamengku Buwono IX beserta birokratanya, tokoh-tokoh masyarakat dalam Yogyakarta-Kooti Hoo-kookai, kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai hubungan dengan tokoh-tokoh politik yang bekerjasama dengan Jepang dan yaang bergerak dibawah tanah, mantan Peta, Heiho, Kenpeitai sampai ke rakyat jelata sudah mendambakan kemerdekaan sejak pernyataan Koiso yang terkenal itu.[39]
Dengan kehadiran Pemerintah Pusat di Yogyakarta banyak pengurus-pengurus pusat partai politik yang juga ikut masuk ke Yogyakarta. Sehingga Yogyakarta yang semula menjadi kota trdisioanal yang berkembang dibawah pimpinan Sultan dan tokoh masyarakat yang terhimpun dalam KNID, menjadi pusat kegiatan politik nasional. Jadi dengan pindaahnya pemerintah RI dari Jakarta ke Yogyakarta maka segenap potensi perjuangan RI dapat terpusatkan. Sejak saat itu Yogyakarta merupakan ibu kota RI dan dari sinailah disususun serta dihimpun segenap kekuatan untuk menanggulangi musuh.[40]
Intregasi Kasultanan Yogyakarta dengan Republik Indonesia adalah sebuah fenomena yang sangat luar biasa, sebuahkerajaan yang semula berdiri dan mempunyai kekuasaan penuh dengan sukarela menyerahkan dan memilih untuk menjadi bagian dari sebuah Negara. Dengan demikian kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari peran raja yang memerintah pada saat itu, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dengan pemikiran politiknya telah mengubah Kasultanan Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa Yogyakarata.[41] Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedangkan pemerintah RI telah memanfaatkan Yogyakartasebagai modal pertama, dengan Pemerintah Daerah yang sudah tertata dan teratur berjalan baik sejak sebelum lahirnya RI sendiri. Sehingga pada waktu pusat pemerintahan RI ada di Yogyakarta pada zaan revolusi, telah dapat berbuat banyak.[42]
Dalam hal ini Karton Yogyakarta, proklamasi kemerdekaan digunakan sebagai peluang emas, sehingga daerah Yogyakarta hingga kini memperoleh status Daerah Istimewa. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII beserta rakyat Yogyakartasaat itu benar-benarmenjadi pahlawan bagi Indonesia yang baru lahir.[43]



[1]Brogtodiningrat, Arti Krtaon Yogyakarta, (Yogyakarta : Museum Krtaon Yogyakarta, 1978), hlm. 7.
[2]Abdurracman Surjomiharjo, Sejarah Perkembangan Sosial Kota Yogyakarta 1800-1930, (Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesaia, 2000), hlm. 20-21.
[3]Op. Cit., Brogtodiningrat, hlm. 8-9.

[4]Ina Parawita Sari, Jogja Punya Cerita, (Jakarta: Azka Mulia Media, 2007), hlm. 17-20.
[5]Log. Cit., Brogtodiningrat, hlm. 7.

[6]Ki Sabdacarakatama, Ensiklopedia Raja-raja Tanah Jawa, (Yogyakarta: Narasi, 2010), hlm. 246.

[7]Riyadi Goenawan, Darto Hanoko, Mobilitas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta, (Yogyakarta : Ombak, 2012), hlm. 19 .
[8]Op. Cit., Ki Sabdacarakatama, hlm. 245-246.

[9]Nelly Anugrawati, Pembangunan Selokan Mataram Sebagai Upaya Perlindungan Sultan Hamengku Buwono IX Terhadap Masyarakat Sleman Pada Masa Pendudukan Jepang (1942-1945), Skripsi, FIS UNY, hlm.  66.

[10]Purwadi, The History of Javanace Kings, (Jakarta: Ragam Media, 2010), hlm. 504-505.

[11]Op. Cit., Ki Sabdacarakatama, hlm. 244.
[12]Arifah Widyastuti, Peradilan di Kasultanan Ngayogyakarta Tahun 1903-1949, Skrpsi, FIS UNY, hlm. 74-75.

[13]R Wahyu Kartiko Condro, KNID dan Peranannya di Yogyakarta Pada Masa Perjuanan Kemerdekaan 1945-1946, Skripsi, FIS UNY, hlm.51.

[14]Ibid., hlm. 49.

[15]Rifanika Dianasari, Peranan RRI Stasiun Yogyakarta dalam  Menggerakan Perjuanagan Di Daerah Yogyakarta (1945-1950), Skripsi, FIS UNY, hlm.78.
[16]Op. Cit., R Wahyu Kartiko Condro, hlm. 57.

[17]A Kardiyat Wiharyanto, Sejarah Indonesia Dari Proklamasi sampai Pemilu 2009, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2011), hlm. 24.
[18]Atmakusumah, Takhta Untuk Rakyat,  (Jakarta: PT Garemdia Pustaka, 2011), hlm. 60-61.

[19]Log. Cit., Purwadi, hlm. 513-516.

[20]Ibid., Purwadi, hlm. 520.
[21]Ibid., Purwadi, hlm. 535.
[22]Ahmad Adaby Darban, dkk, Boigrafi Pahlawan Nasional Sultan Hamengku Buwono IX, (Jakarta: DEBDIKBUD RI, 1998), hlm. 31-34.

[23]Op. Cit., Purwadi, hlm. 512.

[24]Op. Cit., Ahmad Adaby Darban, hlm. 37-38.
[25]DEBDIKBUT, 30 Tahun Indonesia Meredeka 1945-1946, (Jakarta: PT Citra Lamtoro Gung Persada 1985), hlm. 32.
[26]G. A Ohorella, Partisipasi Seniman Dalam Perjuanagn Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta, (Jakarta: CV. Defit Prima Karya,1996), hlm. 23-24.

[27]Op. Cit., Riyadi Goenawan, hlm. 20.

[28]Suwarno, Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan Yogyakarta 1942-1974, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 171.
[29]Dwi Ratna Nurhajarini, dkk, Yogyakarta dari Hutan Beringin ke Ibu Kota Daerah Istimewa, (Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Tradisional Yogyakarta, 2012), hlm. 61-66.

[30]Op. Cit., Ki Sabdacarakatama, hlm. 247.
[31]Op. Cit., Ahmad Adaby Darban, hlm. 36-37.

[32]Op. Cit., Atmakusumah, hlm. 43.
[33]Op. Cit., G.A Ohorella, hlm. 31-32.

[34]Op. Cit., A Kardiyat Wiharyanto, hlm. 51-53.
[35]Op. Cit., Dwi Ratna Nurhajarini, hlm. 69-70.

[36]Ibid., hlm. 69-73.
[37]Op. Cit., Ahamad Adaby Darban, hlm. 38-41.
[38]Julius Pour, Nur Adji, Sepanjang Hayat Bersama Rakyat, (Jakarta: Kompas, 2012, hlm. 178-180.

[39]Op. Cit., Suwarno, hlm. 167.

[40]Op. Cit., G. A Ohorella, hlm. 33.
[41]Eni Lestarai, Kebijakan Politik dan PerjuanaganSri Sultan Hamengku Buwono IX Pada Zaman Pendudukan Jepang (1942-1945), Skripsi, FIS UNY, hlm. 204.

[42]Heru Wahyukismoyo, Merajut Kembali Pemikiran Sri Sultan Hamengkubuwono IX, (Yogyakarta: Dharmakaryadhika Publisher, 2008), hlm. 226.
[43] Purwadi, Babad Tanah Jawi, (Yogyakarta: Pustaka Alif, 2001), hlm. 49.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar